Detik Nusantara Sumenep – Membangun budaya tertib berlalu lintas tak cukup hanya mengandalkan penindakan dan ancaman sanksi. Kesadaran keselamatan di jalan raya justru perlu ditanamkan sejak usia dini. Pendekatan inilah yang dilakukan Satlantas Polresta Sumenep melalui program Polisi Sahabat Anak.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak mengenal aturan lalu lintas dengan cara menyenangkan. Mulai dari mengenali rambu-rambu, memahami tata cara menyeberang jalan, pentingnya menggunakan helm berstandar SNI, hingga mengetahui cara menjadi penumpang kendaraan yang aman.
Materi disampaikan melalui permainan, kuis interaktif, dan pemberian hadiah. Pendekatan ini diharapkan membuat anak-anak lebih mudah memahami pentingnya keselamatan berlalu lintas tanpa merasa digurui.
Kasat Lantas Polresta Sumenep, Eko Aprianto, mengatakan pendidikan keselamatan sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk membentuk karakter pengguna jalan yang disiplin. Menurutnya, kepatuhan berlalu lintas semestinya tumbuh dari kesadaran, bukan semata-mata karena takut terhadap tilang.
"Keselamatan tidak lahir karena takut ditilang, tapi tumbuh dari pendidikan. Kalau sejak kecil anak sudah paham kenapa harus pakai helm dan kenapa harus patuh rambu, kelak mereka akan jadi pengendara yang disiplin dengan sendirinya," ujarnya, Kamis (5/11/2026).
Tak berhenti pada pengenalan aturan, Satlantas juga mendorong anak-anak menjadi Duta Cilik Keselamatan. Mereka diharapkan mampu membawa pesan keselamatan ke lingkungan keluarga, termasuk mengingatkan orang tua agar tidak berkendara ugal-ugalan, tidak menggunakan ponsel saat mengemudi, serta selalu mengenakan helm ketika membonceng anak.
Keterlibatan anak sebagai penyampai pesan keselamatan dinilai penting karena kebiasaan berlalu lintas di lingkungan keluarga turut memengaruhi perilaku mereka. Dengan demikian, edukasi tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga berlanjut di rumah.
Program ini mendapat sambutan positif dari guru dan orang tua yang hadir. Mereka menilai penyampaian materi secara langsung oleh polisi dengan metode interaktif lebih mudah diterima anak dibandingkan pembelajaran yang hanya mengandalkan teori di ruang kelas.
Eko menegaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan Keamanan, Keselamatan, Ketertiban, dan Kelancaran Lalu Lintas (Kamseltibcarlantas) di Kabupaten Sumenep. Program itu juga dikaitkan dengan Mahameru Lantas yang mengedepankan harmoni masyarakat melalui pendekatan empati, responsif, dan unggul dalam berlalu lintas.
Dukungan Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan turut menjadi bagian dari kolaborasi tersebut. Sinergi kepolisian, sekolah, dan keluarga diharapkan dapat memperkuat pendidikan keselamatan sekaligus menekan risiko kecelakaan, khususnya yang melibatkan anak-anak dan pelajar.
Namun, keberhasilan pendidikan lalu lintas sejak dini tidak cukup diukur dari seberapa banyak anak mengenal rambu atau mampu menjawab kuis. Keteladanan orang dewasa di jalan raya tetap menjadi faktor penting agar pesan keselamatan yang diajarkan tidak berhenti sebatas kegiatan seremonial.
(DP**)
