Detik Nusantara Probolinggo - Kodim 0820/Probolinggo turut ambil bagian dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 yang digelar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bestari, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi lintas sektor untuk mendorong kesadaran kolektif dalam pengelolaan sampah.
Perwakilan Kodim 0820/Probolinggo, Kapten Arh Ari Bonanto, menyampaikan bahwa peringatan HPSN tahun ini mengusung tema kolaborasi untuk Indonesia asri. Ia menilai momentum tersebut penting untuk menggerakkan semua pihak agar tidak lagi melihat persoalan sampah sebagai isu sektoral, melainkan tanggung jawab bersama.
“HPSN ini menjadi momentum penting untuk mengajak seluruh elemen bergerak bersama menjaga lingkungan,” ujarnya di sela kegiatan.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan HPSN 2026 mengedepankan prinsip *less waste event* sebagai bentuk komitmen mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Selain itu, upaya pengurangan timbunan sampah dilakukan melalui edukasi dan praktik langsung selama kegiatan berlangsung.
Kapten Ari menjelaskan bahwa fokus utama pengelolaan sampah diarahkan pada pemilahan sejak dari sumber. Ia menyebut pemberdayaan bank sampah dan pengelolaan berbasis kawasan di tingkat RW menjadi langkah strategis dalam menekan volume sampah. Menurutnya, pendekatan tersebut lebih efektif karena melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa peringatan HPSN tidak sekadar seremoni tahunan, tetapi memiliki tujuan jangka panjang dalam membangun kesadaran publik. Menurutnya, pengelolaan sampah yang terintegrasi mulai dari pemilahan hingga daur ulang perlu menjadi kebiasaan baru di tengah masyarakat. “Sampah bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga bisa menjadi ancaman kesehatan dan keselamatan jika tidak dikelola dengan baik,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Probolinggo Aminuddin menekankan pentingnya sinergi antar pihak dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia menyatakan bahwa persoalan sampah harus ditangani secara kolektif, mulai dari tingkat rumah tangga hingga kawasan. Ia menambahkan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dalam mengubah pola pengelolaan sampah sehari-hari.
