Detik Nusantara Probolinggo - Kegiatan kerja bakti yang dipelopori oleh Koramil 0820-07/Wonomerto bersama Pemerintah Desa dan masyarakat Wonorejo memperlihatkan satu praktik kolaborasi yang kerap menjadi fondasi relasi antara aparat teritorial dan warga. Dilaksanakan pada Sabtu (21/2), kegiatan tersebut berfokus pada pembersihan jalan desa yang selama ini dipenuhi semak belukar serta saluran air yang tersumbat sampah dan mengalami pendangkalan.
Menurut Sertu Sudirman, kerja bakti ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari persiapan pemasangan pavingisasi. Artinya, pembersihan tidak hanya dimaknai sebagai upaya estetika, tetapi juga sebagai langkah teknis untuk memastikan infrastruktur yang akan dibangun memiliki fondasi lingkungan yang layak. Koordinasi dengan Pemerintah Desa Wonorejo, yang disebut berlangsung responsif, menunjukkan bahwa kegiatan tersebut tidak bersifat sepihak, melainkan berbasis kesepahaman.
Dari sisi sosial, kerja bakti ini memperlihatkan peran Babinsa sebagai penghubung antara institusi TNI dan masyarakat. Kehadiran aparat dalam ruang-ruang kerja kolektif semacam ini sering kali menjadi simbol bahwa negara hadir dalam skala yang paling dekat dengan warga—bukan dalam bentuk kebijakan besar, melainkan dalam tindakan konkret yang menyentuh keseharian. Pernyataan bahwa TNI “selalu ada untuk rakyat” menemukan artikulasinya melalui partisipasi langsung dalam aktivitas gotong royong.
Harapan agar kerja bakti dilakukan secara berkelanjutan juga menjadi poin penting. Kegiatan semacam ini akan bermakna lebih jika tidak berhenti pada momentum tertentu atau proyek infrastruktur semata, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan kolektif. Keterlibatan pemerintah desa dan masyarakat sebagai pihak yang memiliki kepentingan langsung atas kondisi lingkungan menjadi prasyarat keberlanjutan tersebut.
Respons positif dari tokoh masyarakat setempat menegaskan bahwa dampak kerja bakti dirasakan secara nyata: jalan desa menjadi lebih bersih dan tertata. Meski sederhana, perubahan visual dan fungsional semacam itu sering kali memiliki efek psikologis yang signifikan—menumbuhkan rasa memiliki serta kebanggaan terhadap ruang hidup bersama.
Secara keseluruhan, kegiatan ini memperlihatkan bahwa sinergi antara aparat teritorial dan masyarakat dapat terwujud melalui agenda yang konkret, partisipatif, dan berorientasi pada kebutuhan riil warga. Dalam konteks pembangunan desa, kerja bakti bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan ruang pertemuan antara tanggung jawab sosial, kepentingan bersama, dan praktik kebersamaan yang terus dirawat.
