Detik Nusantara Probolinggo – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus digerakkan hingga tingkat desa. Salah satunya dilakukan Koramil 0820-26/Tegalsiwalan yang kembali turun langsung ke lapangan dengan mendampingi petani dalam proses panen padi, Jum'at (27/3/2026).
Kehadiran aparat teritorial di tengah aktivitas panen bukan sekadar simbolik. Di lapangan, pendampingan tersebut menjadi bagian dari dorongan konkret untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah berbagai tantangan, mulai dari perubahan cuaca hingga keterbatasan sarana produksi.
Anggota Koramil 0820-26/Tegalsiwalan, Serma M. Choiron, menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dilepaskan dari proses awal budidaya hingga panen. Ia menyebut, kualitas penanaman dan perawatan tanaman menjadi penentu utama dalam menjaga ketersediaan pangan.
“Ketahanan pangan pada dasarnya adalah bagaimana masyarakat bisa mengakses pangan yang cukup, aman, dan bergizi. Itu dimulai dari proses di sawah,” ujarnya.
Dalam konteks yang lebih luas, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menopang ketahanan pangan nasional. Mulai dari pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi, pembangunan bendungan, hingga modernisasi sistem pengairan. Selain itu, pengendalian arus impor dan ekspor pangan juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan.
Namun demikian, Choiron menilai bahwa faktor paling krusial tetap berada pada kecepatan dan kesiapan pelaku di sektor pertanian itu sendiri. Penyuluh dan petani, kata dia, harus mampu bergerak selaras dalam meningkatkan produksi, terutama pada musim tanam yang sedang berjalan maupun yang akan datang.
“Semua sumber daya harus diarahkan pada peningkatan produksi. Itu kunci dalam menghadapi potensi darurat pangan,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa ketahanan pangan menjadi isu strategis mengingat besarnya jumlah penduduk Indonesia serta luasnya wilayah yang harus dijangkau distribusi pangan. Dalam kondisi tersebut, stabilitas produksi menjadi penopang utama agar akses pangan tetap terjaga.
Lebih jauh, pendekatan yang dilakukan pemerintah melalui keterlibatan TNI disebutnya tidak lagi parsial. Pendampingan kini menyentuh seluruh rantai produksi, mulai dari pengolahan lahan, masa tanam, hingga pascapanen.
“Pendekatannya sudah menyeluruh, dari hulu sampai hilir. Tinggal bagaimana kita semua bisa bersinergi untuk meningkatkan kualitas dan hasil pertanian,” ujarnya.
Ia berharap, kolaborasi antara petani, penyuluh, dan berbagai pihak terkait dapat terus diperkuat, sehingga sektor pertanian tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan pembangunan pertanian nasional.
(BR**)
